Berapa Jumlah Rakaat Sholat Tarawih Yang Benar 23, 20 Atau 8 Rakaat

Tarawih merupakan salah satu sholat sunnah yang hanya akan di temukan pada bulan ramadhan, serta di kerjakan setelah selesai isya. Umat islam di seluruh dunia baik itu laki-laki atau perempuan, orang dewasa bahkan anak kecil pasti akan pernah melaksanakan tarawih tersebut sebab selain mereka sudah mengetahui keutamaannya, juga menjadi salah satu sholat yang memiliki hukum sunnah mu'akad artinya yaitu sangat di anjurkan pelaksanaannya.

Selain menjadi sholat sunnah yang dianjurkan, tarawih ini juga memiliki keunggulan serta berbeda dengan pada umumnya sholat sunnah, jika dari beberapa di antaranya ada yang lebih utama di kerjakan sendiri atau munfarid, namun dalam tarawih ini justru lebih unggul atau di tekankan untuk di berjamaahkan. Maka tidak heran jika kebanyakan umat muslim ketika awal bulan ramadhan datang di waktu isya semua mesjid pasti di penuhi oleh para jamaah.

Namun meskipun shalat ramadhan ini sepakat seluruh umat islam hanya di kerjakan pada bulan ramadhan, dalam hal tata cara pelaksanaannya berbeda-beda, maksudnya dalam jumlah rakaat bukan pada niat shalat tarawih atau bacaannya. Beberapa umat islam di antaranya ada yang melaksanakan tarawih ini 20 rakaat di tambah 3 witir jumlahnya menjadi 23, ada juga yang 8 di tambah witir menjadi 11 dan ada juga yang 36.

Berapa Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Yang Benar 23, 20 Atau 8 Rakaat?

Tetapi kebanyakan perbedaan yang terjadi di kalangan umat islam indonesia adalah antara 8 dan 20 rakaat, kedua permasalahan ini tidak bisa di pungkiri sering terjadi menimbulkan perdebatan di kalangan para ustadz yang hasilnya tidak sedikit pula yang membuat bingung para jamaah, mana yang paling benar. Nah dalam hal ini kami juga ingin mencoba sedikit membahas sesuai yang telah kami ketahui.

Berapa Jumlah Rakaat Shalat tarawih ?

Mungkin kata "berapa" yang akan menjadi pokok pembahsan kali ini semoga saja dapat di pahami oleh para pembaca semua, dan sebelumnya kami mohon maaf yang besar-besarnya apabila ada yang kurang berkenan dengan pembahsan ini. Akar dari permasalahannya kita harus memahami dulu apakah tarawih ini sama dengan shalat mallam atau tidak? atau keduanya tersebut merupakan shalat sendiri-sendiri tidak ada hubungannya.

Kebiasaannya di antara sebagaian orang yang berkata bahwa tarawih dan shalat malam itu sama, yaitu mereka yang melaksanakan shalat tarawih dengan 8 rakaat atau di tmbah witit menjadi 11 rakaat yang ersumber pada sebuah hadits riwayat aisyah r.a yang berbunyi sebagai berikut :

ما كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزِيْدُ فِى رَمَضَــــانَ وَلاَ فِى غَــيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً ، يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْـاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْــاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَــلِّى ثَلاَثًا ، فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ اَنْ تُوْتِرَ ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلاَ يَـــــنَامُ قَلْبِى . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya : Tiadalah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat. Kemudian aku (Aisyah) bertanya, "Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum salat witir?" Beliau bersabda, "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur (HR.Bukhari).

Dalam sebuah kitab dalilul falihin krangan syeh muhammad bin 'allan jld 3 hal 659 di terangkan bahwa hadits tersebut merupakan tentang shalat witir, sebab witir paling kebanyakannya hanya di kerjakan 11 rakaat saja tidak boleh lebih.bahkan terlihat dari ucapan beliau siti aisyar r.a bahwa baginda rosul saw tidaklah menambah shalat baik itu ketika ramadhan atau bulan lainnya melebihi 11 rakaat, adapun shalat tarawih atau qiyamu ramadhan ini hanya ada pada bulan ramadhan. Ucapan Aisyah "beliau salat empat rakaat dan Anda jangan bertanya tentang kebagusan dan panjangnya", tidaklah berarti bahwa beliau melakukan salat empat rakaat dengan satu kali salam. Sebab dalam hadits yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra. Nabi bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَاَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ
.
Artinya : Salat malam itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat, dan jika kamu khawatir akan subuh, salatlah witir satu rakaat".

bnu Umar juga berkata

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَ يُوْتِرُ بِرَكْعَةٍ.

artinya : Adalah Nabi saw. melakukan salat dari waktu malam dua rakaat dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat".

Pada saat Rasulullah saw. serta saat pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, shalat tarawih dikerjakan pada tengah malam, namanya bukanlah tarawih, tetapi qiyamu Ramadhan. Nama tarawih di ambil dari arti istirahat yang dikerjakan sesudah lakukan shalat empat rakaat. Selain itu butuh di ketahui, kalau proses tarawih di Masjid al-Haram, Makkah yaitu 20 rakaat dengan dua rakaat satu salam.

Lantas Umar bin 'Abdul Aziz memberi raka'at shalat Tarawih jadi 36 raka'at untuk orang diluar kota Makkah supaya menyamai pahala Tarawihahli makkah ; Atau shalat Tarawih 20 raka'at serta Witir 3 raka'at menjadi 23 raka'at. Sebab 11 rakaat itu yaitu jumlah bilangan rakaat shalat malamnya Rasulullah saw berbarengan teman dekat serta kemudian Beliau menyempurnakan shalat malam di tempat tinggalnya. Seperti Hadits Nabi SAW. :

أَنَّهُ صلّى الله عليه وسلّم خَرَجَمِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ لَيَالِيْ مِنْ رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثُمُتَفَرِّّقَةٍ: لَيْلَةُ الثَالِثِ, وَالخَامِسِ, وَالسَّابِعِوَالعِشْرِيْنَ, وَصَلَّى فِيْ المَسْجِدِ, وَصَلَّّى النَّاسُبِصَلاَتِهِ فِيْهَا, وَكَانَ يُصَلِّّْي بِهِمْ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ,وَيُكَمِّلُوْنَ بَاقِيْهَا فِيْ بُيُوْتِهِمْ. رواه الشيخان

Rasulullah SAW keluar untuk shalat malam di bulan Ramadlan sebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh untuk shalat bersama umat di mesjid, Rasulullah saw. shalat delapan raka'at, dan kemudian mereka menyempurnakan sisa shalatnya di rumah masing-masing. HR Bukhari dan Muslim.

Para imam madzhab telah menetapkan kesunnahan salat tarawih berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits sebagai berikut:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ لَيَالِيَ مِنْ رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثٌ مُتَفَرِّقَةٌ لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ وَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيْهَا ، وَكَانَ يُصَلِّى بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ أَيْ بِأَرْبَعِ تَسْلِيْمَاتٍ كَمَا سَيَأْتِى وَيُكَمِّلُوْنَ بَاقِيَهَا فِى بُيُوْتِــــهِمْ أَيْ حَتَّى تَتِــــمَّ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً لِمَا يَأْتِى ، فَكَانَ يُسْمَعُ لَهُمْ أَزِيْزٌ كَأَزِيْزِ النَّحْلِ .

"Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar pada waktu tengah malam pada bulan Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang terpisah: malam tanggal 23, 25, dan 27. Beliau salat di masjid dan orang-orang salat seperti salat beliau di masjid. Beliau salat dengan mereka delapan rakaat, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan salat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga salat tersebut sempurna 20 rakaat menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah".

Sahabat Ibnu Abbas meriwayatkan bahwaRasulullah SAW shalat Tarawih di bulan Ramadhan sendirian sebanyak 20 Rakaat ditambah Witir. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Ibnu Hajar menyatakan bahwa Rasulullah shalat bersama kaum muslimin sebanyak 20 rakaat di malam Ramadhan. Ketika tiba di malam ketiga, orang-orang berkumpul, namun rasulullah tidak keluar. Kemudian paginya beliau bersabda:

خَشِيْتُ أَنْ تَفَرَّضَ عَلَيْكُمْ فَلَا تُطِيْقُونَهَا

"Aku takut kalau-kalau tarawih diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakannya."

Hadits ini disepakati kesahihannya dan tanpa mengesampingkan hadits lain yang diriwayatkan Aisyah yang tidak menyebutkan rakaatnya. (Dalam hamîsy Muhibah, Juz II, hlm.466-467)

PADA MASA KHOLIFAH UMAR BIN KHATTAB

Dikatakan dalam kitab Sahih Bukhari

" Dari Abdurrahman bin Abdul Qarai, beliau berkata : Saya keluar berbarengan Sayidina 'Umar bin Khathab (Khalifah) disuatu malam bln. Ramadhan pergi ke mesjid (Medinah). Ditemui dalam mesjid beberapa orang shalat tara-wih berpisah-pisah. Ada orang yang sembahyang sendiri­sendiri, ada orang yang shalat serta ada banyak orang di bela­kangnya, jadi Sayidina Umar berkata : Saya beranggapan dapat memper­satukan beberapa orang ini. Seandainya jadikan satu dengan seseorang Imam sebetulnya tambah baik, lebih mirip dengan shalat Rasulullah. Jadi dipersatukan beberapa orang itu shalat di belakang seseorang Imam namanya Ubal bin Ka'ab. Selanjutnya pada satu malam kami datang lagi ke mesjid, selanjutnya kami memandang beberapa orang shalat saling bersama di belakang seseorang Imam. Sayidina Umar berkata : Ini yaitu bid'ah yang baik. " (H. Histori Imam Bukhari, simak Sahih Bukhari I, halaman 241 - 242).

Abdurrahman bin Abdul Qarai yang meriwayatkan perbuatan Sayidina Umar ini yaitu seseorang Tabi'in yang lahir saat Nabi masihlah hidup. Beliau yaitu murid Sayidina Umar bin Khathab, meninggal dunia th. 81 H. dalam umur 78 th..

Terlihat dalam hadits ini kalau Khalifah yang ke-2 Umar bin Khathab memerintahkan supaya shalat tarawih ditangani dengan berjamaah, tak scorang-seorang saja. Serta beliau memiliki pendapat kalau hal semacam itu yaitu " bid'ah yang baik ".
Itu dalam kitab Al Muwatha', karya Imam Malik, halaman 138 begini :

Dari Malik dari Yazid bin Ruman, ia berkata : " Yaitu manusia membangun shalat pada jaman Umar bin Khathab sejumlah 23 raka'at. " (H. Kisah Imam Malik dalam Kitab Al Muwatha' halaman 138 juz I)

Nampaklah kalau sahabat-sahabat Nabi saat itu diperintah oleh Sayidina Umar untuk kerjakan shalat sejumlah 23 raka'at, yakni 20 raka'at shalat tarawih serta 3 raka'at shalat witir setelah shalat tarawih.
Dijelaskan dalam kitab Imam Baihaqi :

" Sebenarnya mereka (sahabat-sahabat) Nabi, membangun shalat (tarawih) dalam bln. Ramadhan pada jaman Umar bin Khathab Rda dengan 20 raka'at. (H. Kisah Baihaqi - saksikan Baihaqi (Sunan al-kubra) juz II hal 466)

Nampaklah dalam keterangan-keterangan ini bahwá sahabat-sahabat Nabi sudah (setuju) membangun salat tarawih pada saat Umat sejumlah 20 raka'at. Ijma' Teman dekat menurut ushul fiqih yaitu hujah yaitu yaitu dalil syariat. Berikut pokok pangkal hitungan raka'at shalat tarawih. Sayidina Umar, seseorang Teman dekat Nabi yang dipercayai Khalifah Nabi yang ke-2 memerintahkan 20 raka'at. ini bermakna kalau beliau tahu kalau banyak shalat tarawih Nabi, baik di mesjid atau dirumah sejumlah 20 raka'at. Bila tak pasti Sayidina Umar akan tidak memerintahkan demikian Ini namanya kisah hadits dengan perbuatan. Kita ummat Islam diminta oleh Nabi ikuti Sayidina Abu Bakar serta Umar. Nabi berkata :

قْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ . رَوَاهُأَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ

"Ikutilah dua orang sesudah saya: yaitu Abu Bakar dan Umar". (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah — lihat Musnad Ahmad bin Hanbal V hal. 382 dan Sahih Tirmidzi XIII 129).
Dan dalam sebuah hadits ummat Islam diperintah oleh Nabi supaya mengikut Khalifah-Khalifah Rasyidin, beliau berkata begini :

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ

"Maka wajib atasmu mengikut sunnah aku dan sunnah Khalifah­Khalifah Rasyidin yang diberi hidayat, sesudah aku". (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi — Lihat Sunan Abu Daud IV halaman 201).

Bisa di ambil rangkuman dari dalil-dalil diatas, kalau hitungan raka'at shalat tarawih yaitu 20 raka'at, serta shalat witir yaitu 3 raka'at, jumlahnya 23 raka'at.
Siapa saja yg tidak kerjakan shalat tarawih 20 raka'at rnaka ia belum dinamakan melakukan shalat tarawih, serta belum ikuti jejak Sayidina Umar bin Khathab. Khalilatur-rasyidin yang kita semua diminta Nabi mengikut beliau.

Jumlah Raka'at Shalat Tarawih Menurut Ulama salaf


1. Imam Hanafi
Seperti disebutkan Imam Hanafi dalam kitab Fathul Qadir kalau Disunnahkan golongan muslimin berkumpul pada bln. Ramadhan setelah Isya', lantas mereka shalat berbarengan imamnya lima Tarawih (istirahat), tiap-tiap istirahat dua salam, atau dua istirahat mereka duduk selama istirahat, lalu mereka witir (ganjil).
Walhasil, kalau bilangan rakaatnya 20 rakaat terkecuali witir jumlahnya 5 istirahat serta tiap-tiap istirahat dua salam serta tiap-tiap salam dua rakaat = 2 x 2 x 5 = 20 rakaat.

2. Imam Maliki
Dalam kitab Al-Mudawwanah al Kubro, Imam Malik berkata, Amir Mukminin mengutus utusan kepadaku serta dia menginginkan kurangi Qiyam Ramadhan yang dikerjakan umat di Madinah. Lantas Ibnu Qasim (perawi madzhab Malik) berkata " Tarawih itu 39 rakaat termasuk juga witir, 36 rakaat tarawih serta 3 rakaat witir " lantas Imam Malik berkata " Jadi saya melarangnya kurangi dari itu sedikitpun ". Saya berkata padanya, " berikut yang kudapati beberapa orang mengerjakannya ", yakni perkara lama yang masihlah dikerjakan umat.
Dari kitab Al-muwaththa', dari Muhammad bin Yusuf dari al-Saib bin Yazid kalau Imam Malik berkata, " Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka'ab serta Tamim al-Dari untuk shalat berbarengan umat 11 rakaat ". Dia berkata " bacaan surahnya panjang-panjang " hingga kita sangat terpaksa berpegangan tongkat lantaran lama-nya berdiri serta kita baru usai mendekati fajar menyingsing. Lewat Yazid bin Ruman dia berkata, " Beberapa orang lakukan shalat pada saat Umar bin al-Khattab di bln. Ramadhan 23 rakaat ".
Imam Malik meriwayatkan juga lewat Yazid bin Khasifah dari al-Saib bin Yazid adalah 20 rakaat. Ini dikerjakan tanpa ada wiitr. Juga diriwayatkan dari Imam Malik 46 rakaat 3 witir. Berikut yang masyhur dari Imam Malik.

3. Imam as-Syafi'i
Imam Syafi'i menerangkan dalam kitabnya Al-Umm, " kalau shalat malam bln. Ramadhan itu, dengan cara sendirian itu lebih saya gemari, serta saya lihat umat di madinah melakukan 39 rakaat, namun saya lebih sukai 20 rakaat, karenanya diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab. Demikian juga umat mengerjakannya di makkah serta mereka witir 3 rakaat.
Lantas beliau menerangkan dalam Syarah al-Manhaj sebagai pegangan pengikut Syafi'iyah di Al-Azhar al-Syarif, Kairo Mesir kalau shalat Tarawih dikerjakan 20 rakaat dengan 10 salam serta witir 3 rakaat di tiap-tiap malam Ramadhan.

4. Imam Hambali
Imam Hambali menerangkan dalam Al-Mughni satu permasalahan, ia berkata, " shalat malam Ramadhan itu 20 rakaat, yaitu shalat Tarawih ", hingga menyampaikan, " yang dipilih untuk Abu Abdillah (Ahmad Muhammad bin Hanbal) tentang Tarawih yaitu 20 rakaat ".
Menurut Imam Hanbali kalau Khalifah Umar ra, sesudah golongan muslimin dihimpun (berjamaah) berbarengan Ubay bin Ka'ab, dia shalat berbarengan mereka 20 rakaat. Serta al-Hasan menceritakan kalau Umar menyatukan golongan muslimin lewat Ubay bin Ka'ab, lantas dia shalat berbarengan mereka 20 rakaat serta tak memanjangkan shalat berbarengan mereka terkecuali pada separo bekasnya. Jadi 10 hari paling akhir Ubay ketinggalan lantas shalat dirumahnya jadi mereka menyampaikan, " Ubay lari ", diriwayatkan oleh Abu Dawud serta as-Saib bin Yazid.

5. Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani
Al Imam Ibnu Hajar Al Asqolani menerangkan Hadits mengenai Tarawihnya Khalifah Umar, dalam kitabnya Fathul Bari, beliau menulis :

" Penyempurnaan : Tak ada penyebutan dalam kisah ini berapakah Rakaat shalat yang dikerjakan Ubay Bin Ka'ab, serta beberapa salaf berselisih atas hal semacam ini, didalam kitab Al Muwatho' dari Muhammad bin Yusuf dari Assaib bin Yazid sebenarnya sholatnya 11 rakaat, serta meriwayatkan Sa'id bin Manshur Dari jalur yang lain serta memberikan dalam kisah itu " Mereka beberapa teman dekat membaca 200 an ayat serta berdasar pada tongkat lantaran lamanya berdiri ", serta meriwayatkan Muhammad bin Nashr Al Marwazi dari jalan Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Yusuf, berkata : 13 rakaat, serta meriwayatkan Abdurrozaq dari jalan yang lain dari Muhammad bin Yusuf, berkata 21 rakaat, serta meriwayatkan Malik dari jalan Yazid bin Khushaifah dari Assa'ib bin yazid 20 rakaat, serta ini di asumsikan terkecuali witir.

Serta dari Yazid bin Rouman berkata " Banyak Manusia sholat tarawih di era Umar dengan 23 rakaat,
serta meriwayatkan Muhammad bin Nashr dari jalur Atho', berkata : Saya merasa banyak kawan akrab di bln. Ramadhan sholat 23 rakaat serta 3 witir. Serta banyak riwayat-riwayat ini merupakan merupakan hal yg Kemungkinan, dikarenakan berbeda-bedanya haliyah (situasi), serta di kompromikan sesungguhnya ketaksamaan sejarah ini melihat dari panjang serta pendeknya bacaan, jadi kala bacaanya panjang jadi sedikit rakaatnya serta demikian sebaliknya. Serta pendapat ini di kuatkan Al Dawadi serta yg lain. Hitungan Rakaat yg awal (11 rakaat) ini mencocoki hadits A'isyah, serta pendapat ke dua (13 rakaat) mendekati hadits itu juga. Serta ketaksamaan sejarah jumlah rakaat yg melebihi 20 rakaat, jadi kembali terhadap ketaksamaan rakaat witir, dikarenakan kenyataannya kadang kala witir itu dilaksanakan 1 rakaat kadangkala 3 rakaat. Serta meriwayatkan Muhammad bin Nashr dari jalur Dawud bin Qois berkata : Saya merasa banyak manusia di periode pemerintahan Aban bin Utsman serta Umar bin Abdul Aziz -yakni di madinah- mereka shalat dengan 36 rakaat serta 3 rakaat witir, serta berkata Imam Malik hal tersebut merupakan perkara yg terdahulu buat kami. Serta dari Azza'faroni dari Asyafi'i, berkata : Saya menyaksikan beberapa orang di madinah sholat dengan 39 rakaat serta di Makkah 23 rakaat. Serta dari Asyafi'i : Seandainya memanjangkan berdiri (bacaan) serta menyedikitkan sujud (rakaat), jadi hal tersebut bagus, serta seandainya perbanyak sujud (rakaat) serta memperingan bacaan, itu bagus pula. Tetapi yg awal lebih saya senangi.

6. Imam Tirmidzi
Berkata Attirmidzi : pendapat yg paling banyak di katakan dalam jumlah rakaat tarawih merupakan 41 rakaat -yakni dengan witir-. Serta menuqil dari Ibnu Abdil Bar dari Al Aswad bin Yazid : Tarawih di laksanakan 40 rakaat dengan 7 rakaat witir, serta di katakan 38 rakaat, seperti yg udah di tuturkan Muhammad bin Nashr dari Ibnu Aiman dari Imam Malik ".
(Fathul Bari Syarah Shohih Bukhori Juz 4 hal 253 Bab Kitabus Shalati Tarawih cet Dar Al Ma'rifah).

7. Imam Ibnu Taymiyah
beliau menulis : " Udah di terima kalau Ubay Ibn Ka´b umum mengimami sembahyang utk jamaah dengan 20 rakaat di bln. ramadlan dan3 rakaat witir. Dari sini, banyak ulama sepakat 20 rakaat sebagai sunnat dikarenakan Ubay umum mengimami jamaah yg terdiri atas Muhajirin serta Anshar serta tdk seorangpun pada mereka menolaknya. " (Fataawa Ibn Taymiyyah hal. 112)

8. Imam Nawawi
Berkata Imam Nawawi dalam kitab " AI Majmu " syarah Al Mahazab begini :
" Dalam Madzhab kita Tarawih itu 20 raka'at dengan 10 salam, tidak hanya Witir ". (Al Majmu' IV hal. 32).

9. Imam Syarbini
Berkata Imam Syarbini al Khathib :
" Serta tarawih itu 20 raka'at dengan 10 salam setiap bln. Ramadhan, demikianlah hadits Baihaqi dengan sanad yg sahih, sesungguhnya kawan akrab kawan akrab Nabi dirikan shalat pada waktu Umar bin Khatab dalam bln. Ramadhan banyak 20 rakaat, clan merawikan Imam Malik dalam kitab al Muwatha' banyak 23 raka'at, akan tetapi Imam Baihaqi mengemukakan kalau yg tiga raka'at yg akhir yaitu shalat witir.
(Mughni al Muhtaj, juzu' I, halaman 226).

10. Imam Jalaluddin Al-Mahalli
Berkata Imam Jalaluddin al Mahalli :
" Serta merawikan Imam Baihaqi dengan sanad yg sahih seperti yg di katakan dalam syarah Muhazzab, sesungguhnya Sahabat-sahabat Nabi shalat pada waktu Umar bin Khathah banyak 20 raka'at ". (Al Mahalli, juzu' I, halaman 217).

11. Imam Sayd Bakri
Berkata Imam Sayd Bakri Syatha :
" Serta shalat tarawih itu 20 raka'at dengan 10 salam, tiap tiap malam bln. Ramadhan dikarenakan hadits Nabi " Siapapun shalat didalam bln. Ramadhan didorong oleh iman serta dikarenakan Allah semata­-mata diampuni sekalian dosanya yg sudah lantas. Perlu salam tiap-tiap 2 raka'at, jadi apabila dishalatkan 4 raka'at dengan 1 salam tidaklah sah " (la'natut Thalibin juzu' I, halaman 265).

12. Imam Ramli
Berkata Imam Ramli :
" Serta shalat tarawih itu 20 raka'at dengan 10 salam, dikarenakan histori yg menuturkan sebetulnya sahabat-sahabat Nabi membangun shalat tarawih dalam Malam Ramadhan pada masa Umar bin Khathab jumlah 20 raka'at. " (Nihayatul Muhtaj, juzu' I, halaman 122).

13. Imam Zainuddin Al-Malibari
" Shalat Tarawih hukumnya sunnah, 20- raka'at serta 10 salam pada tiap-tiap malam di bln. Ramadlan. Dikarenakan ada hadits : Barangsiapa Melakukan (shalat Tarawih) saat malam Ramadlan dengan iman serta mengharap pahala, jadi dosanya yg terdahullu diampuni. Tiap tiap dua raka'at haru salam. Apabila shalat Tarawih 4 raka'at dengan satu kali salam jadi hukumnya tdk sah...... ". (Zainuddin al Malibari, Fathul Mu'in, Bairut : Daral Fikr, juz I, h. 360).

Shalat di Masjidil Haram, Makah. Disana, 23 rakaat di kerjakan jangka waktu lebih kurang 90-120 menit. Surat yg di baca imam yakni ayat -ayat suci Al-Qur'an dari mula, senantiasa berurutan menuju akhir Al-Qur'an. Tiap tiap malam mesti di kerjakan lebih kurang 1 juz lebih, dengan diperhitungkan pada tanggal 29 Ramadhan (dahulu tiap-tiap tanggal 27 Ramadhan) telah khatam. Waktu malam ke 29 Ramadhan tersebut ada adat khataman Al-Qur'an dalam shalat Tarawih di Masjidil Haram.

Bahkan juga, di rakaat paling akhir imam memanjatkan doa yangmenurut ukuran orang Indonesia benar-benar panjang sebab doa itu dapat sampai15 menit, doa yg langka dijalankan seseorang kiai dengan saat sepanjangitu, meskipun di luar shalat meski. Serta terkena di kitab Shalat al-Tarawih fi Masjid al-Haram bahwashalat Tarawih di Masjidil Haram sejak mulai zaman Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman, dll hingga saat ini selamanya dijalankan 20 rakaatdan 3 rakaat Witir.

Pada kesimpilannya, kalau pendapat yg unggul terkait jumlah raka'at shalat tarawih merupakan 20 raka'at + raka'at witir jumlahnya 23 raka'at. Dapat tapi apabila ada yg melakukan shalat tarawih 8 raka'at + 3 withir jumlahnya 11 raka'at tdk bermakna menyalahi Islam. Sebabperbedaan ini cuma problem furu'iyyah bukanlah problem aqidah tdk perla dipertentangkan.
Wallahu a'lam bi al-shawab.

Nah itulah kiranya pembahasan tentang berapa rakaat sholat tarawih yang benar 23, 20 atau 8 rakaat? hadits tentang, perbedaan, 4 4 3, dasar, di masjidil haram, dalil, menurut muhammadiyah, dan witir, adalah, hukumnya, di sebut juga, tercepat di dunia, pengertian, bacaan, tuliskan dalil tentang , bilal, pengertian, keutamaan.